Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out
Wirausaha Kontak Jodoh Mobil Bekas Pasang Iklan Rumah
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Desember 2011

KAJIAN PERANG IRAK – AMERIKA (RUNTUHNYA REZIM SADDAM HUSSEIN)

Kamis, 15 Desember 2011
0 komentar

Kondisi Negara Irak
Irak merupakan salah satu negara yang selama ini digambarkan oleh Amerika sebagai momok menakutkan bagi dunia, khususnya Barat. Sebuah tragedi kemanusiaan kembali digelar oleh Amerika, pihak yang katanya mengusung demokrasi dan HAM, sehingga AS dan sekutunya kembali melancarkan sebuah agresi terhadap musuh bebuyutannya tersebut. Dengan dalih menghancurkan senjata pemusnah massal, membebaskan rakyat Irak dari kekejaman rezim Saddam, dan menegakkan demokrasi di negeri 1001 malam itu, Amerika dan sekutunya bebas membombardir negara Irak dan membunuhi warga sipil tak bersalah. Sebuah skenario telah direncanakan dengan matang beberapa waktu yang lalu oleh Amerika pihak agresor AS. Apa yang nampak sekarang ini adalah sebuah bagian dari rangkaian peristiwa sebelumnya, diantaranya Tragedi WTC dan invasi ke bumi jihad Afghanistan. Dengan demikian apa sebenarnya maksud dan latar belakang dibalik sebuah kamuflase ini ? oleh karena itu penulis akan mencoba mengungkap apa sebenarnya yang menyebabkan terjadinya perang Irak – USA tersebut.
Irak, sosok negara yang tidak pernah lepas dari kontroversial, memiliki cadangan minyak terbesar ke-2 di dunia setelah Arab Saudi. Irak termasuk negara OPEC yang sebetulnya memiliki pengaruh dan peran yang sangat besar dalam menentukan kebijakan produksi serta harga minyak mentah dunia. Hanya saja, karena sanksi PBB masih berlaku, produksi minyak Irak dibatasi hanya 2,5 juta barel per hari (bph). Jauh sebelum OPEC lahir, Amerika dengan tujuh perusahaan minyaknya yang dikenal sebagai “seven sister” mampu mengontrol produksi dan harga minyak mentah dunia. Kelebihan itu sangat merugikan negara-negara OPEC dimana sebagai produsen minyak besar malah tidak bisa mengatur harga minyak. Karenanya, dibentuklah OPEC. Setelah itu, peran Amerika yang sangat luar biasa itu pelan-pelan hilang. Dengan menguasai minyak Irak, Amerika mencoba mengembalikan peran dahsyatnya itu.
Krisis Irak dan Amerika sudah menjadi sebuah isu publik Internasional, bahkan krisis ini sudah semakin meningkat kearah terjadinya konflik bersenjata dalam skala besar. Situasi yang semakin memanas ditandai oleh semakin intensnya ancaman Presiden George W Bush untuk menyerang Irak walaupun tanpa resolusi ke II dari dewan keamanan PBB dan banyak ditentang oleh komunitas internasional, namun akhirnya terjadi perang di kawasan teluk Parsi tersebut. Perang Teluk II antar negara-negara yang tergabung dalam koalisi multinasional pimpinan Amerika degan Irak terjadi pada tanggal 20 Maret 2003 karena beberapa alasan sejarah, politik, Ekonomi dan Militer.
Ada beberapa alasan sebagai latar belakang sehingga terjadinya perang Irak – Amerika adalah :
Pertama, Keinginan Presiden Bush untuk melampiaskan dendam pribadi terhadap Saddam Hussein karena yang bersangkutan pernah berseteru dalam Perang Teluk I dengan ayahnya Geoge Bush Senior, yang berakhir dengan “Kemenangan” Sadam Hussein.
Kedua, Ingin menciptakan tatanan dunia baru yang “lebih aman” dengan tujuan kebebasan ekonomi dan politik. Hal ini merupakan strategi geopolitik AS di kawasan Timur Tengah. Bagi AS, Irak merupakan ancaman potensial bagi kepentingannya dan sekutunya, Israel, di kawasan ini.
Ketiga, Terinspirasi oleh keberhasilannya dalam menghancurkan rezim Taliban dan menciptakan rezim boneka di Afganistan, Bush berusaha untuk melakukan hal yang sama. Obsesi Bush adalah menggulingkan Saddam Hussen dan mendirikan Rezim boneka di Irak yang dapat diatur untuk mengikuti keinginan Washinton.
Keempat, Kampanye anti terorisme yang dikembangkan Amerika pasca tragedi 11 September 2001, dimana dalam kasus ini Irak sangat berpengaruh dalam faksi garis keras dilingkungan elit Politik Gedung Putih.
Kelima, Bush menyatakan bahwa telah terjadi konspirasi kejahatan di Irak yang berkaitan dengan penggunaan dan penyimpanan senjata pemusnah massal.
Keenam, alasan ekonomi, terutama minyak Irak yang memiliki cadangan terbesar kedua di dunia setelah Arab saudi. Dengan menguasai Irak, Amerika berharap bisa memprivatisasi perusahaan minyak setempat dan kemudian dibeli oleh perusahaan-perusahaan mereka sendiri. Privatisasi perusahaan-perusahaan minyak dan energi didunia merupakan suatu keuntungan yang sangat besar bagi Amerika.
Ketujuh, alasan keagamaan. Bush merupakan penganut Kristen Methodist, Bush tidak bisa mentolerir segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan Islam Fundamentalis seperti yang dilakukan Usamah bin Ladin yang menurut Amerika memiliki hubungan khusus dengan pemerintahan Saddam Hussein.
Delapan, Demokratisasi. Bush memberikan alasan atas seranganya terhadap Irak karena ingin membangun negara Irak yang demokratis, membebaskan rakyat Irak dari kekejaman rezim Saddam dan membawa Irak ke dalam kesejahteraan.


Tinjauan Peperangan Irak - Amerika
Pertempuran antara Irak - Amerika telah banyak memakan korban jiwa bagi warga sipil Irak. Disisi lain pasukan Irak terus melaksanakan pertahanannya dari serangan darat maupun udara pasukan AS dan koalisinya untuk menjaga wilayahnya. Namun dibalik perang Irak - AS tersebut terdapat beberapa kendala maupun keberhasilan kedua negara tersebut. Kendala yang dialami oleh pasukan Irak yaitu : Pertama, Pasukan Irak sangat kesulitan dalam menahan gempuran dari pasukan AS dan koalisinya karena minimnya kekuatan angkatan bersenjatanya serta terbatasnya alutsista yang dimilikinya. Kedua, Yang paling membahayakan keamanan negara-negara tetangga Irak adalah problematika etnis Kurdi. Kurdi telah lama menjadi "batu kerikil dalam sepatu" pemerintah Saddam Hussein karena aksi separatis Kurdi di wilayah utara Irak. Sudah bukan rahasia lagi betapa AS sebelum invasi ke Irak, telah pula mempersenjatai, bahkan melatih milisi Kurdi. Meskipun Kurdi dipersenjatai AS, bukan berarti Kurdi dekat dengan AS, karena Kurdi sendiri dibuat kecewa oleh perlakuan Turki terhadap orang Kurdi yang berada di wilayah Turki. Perlakuan diskriminasi yang dilakukan Pemerintah Ankara (Turki) terhadap Kurdi selama ini. Ketiga, Kurangnya perencanaan yang matang, sehingga rencana perlawanan pasukan milisi dan perang kota yang gagal. Disamping itu gelar pasukan tidak maksimal dalam jumlah dan kemampuan alutsistanya, hal ini karena adanya embargo dan pemusnahan beberapa persenjataan. Keempat, Kurangnya dukungan dari rakyat Irak sebagaimana yang diharapkan dan adanya perlawanan dari dalam, sehingga kurang memperhatikan kemampuan udara dari pasukan koalisi, membuat Irak tidak dapat berbuat banyak dalam melakukan pertahanannya. Kelima, akibat hancurnya pusat pengendalian operasi dan jatuhnya kota Bagdad sebagai central of gravity, praktis Irak mengalami kekalahan. Pasukan yang tersisa tercerai berai, sehingga terjadi penjarahan dan tindak kekerasan.
Sedangkan bagi Amerika kendalan yang dialaminya adalah antara lain : Pertama, Irak merupakan negara yang mempunyai cuaca dan medan yang sangat ekstrem sehingga dapat menyulitkan pasukan AS dan koalisinya untuk menghancurkan kekuatan Pasukan Irak dengan cepat. Kedua, Masih kurang akuratnya informasi intelijen, terbukti dengan adanya salah sasaran dan salah perhitungan dalam merencanakan waktu. Menurut perhitungan, Irak dapat ditaklukkan dalam waktu kurang dari 2 minggu namun pada kenyataannya sampai 1 bulan lebih. Ketiga, Dilaksanakan tanpa ada persetujuan dari PBB dan banyaknya protes/demo dari berbagai negara termasuk protes dari warga negara mereka sendiri. Keempat, Pihak Pentagon sudah menekankan koordinasi lebih baik di antara angkatan, dalam kenyataannya pihak-pihak yang berangkat ke medan perang ini tidak punya cukup kesempatan untuk mempraktikkan konsep yang ada dalam uji coba. Angkatan Udara diberitakan lebih banyak latihan di kalangan mereka sendiri, demikian pula Angkatan Darat. Kelima, Kurang mendapat simpati dan dukungan seluruh rakyat Irak serta masih adanya gerilya dari sisa-sisa pasukan Saddam Hussein.


Strategi Kekuatan
Invasi Irak tahun 2003 dengan kode "Operasi Pembebasan Irak" secara resmi dimulai pada tanggal 20 Maret 2003. Tujuan yang ditetapkan Amerika Serikat adalah untuk melucuti senjata pemusnah massal Irak, mengakhiri dukungan Saddam Hussein kepada terorisme, dan memerdekakan rakyat Irak. Sebagai persiapan, pada 18 February 100.000 tentara Amerika Serikat dimobilisasikan di Kuwait. Amerika Serikat menyediakan mayoritas pasukan untuk invasi ini, dengan dukungan dari pasukan Koalisi yang terdiri dari lebih dari 20 negara dan suku Kurdi di utara Irak. Invasi Irak 2003 inilah yang menjadi pembuka Perang. Dalam peperangan Irak - Amerika tersebut strategi yang digunakan oleh kedua negara yaitu : Pasukan Irak. Untuk menghadapi gerak maju pasukan Amerika dan koalisinya, Irak menggunakan pasukan regular serta militan yang setia kepada Saddam dengan titik berat pada pasukan darat. Sedangkan kekuatan Laut Irak boleh dikatakan kurang berdaya karena hanya berada di daerah Umm Qasr yang merupakan daerah pantai di perbatasan Irak dan Kuwait, dimana AL Irak hanya memiliki beberapa kapal bersenjata yang digunakan sebagai tugas patroli perbatasan. Pasukan yang dimiliki adalah sebagai berikut : Pertama, Kekuatan Darat. 1) Spesial Garda Republik 26.000 personel. 2) Garda Republik 60.000 personel memiliki 6 Divisi dilengkapi persenjataan modern. 3) Tentara reguler 375.000 personel. 3) Tentara cadangan 650.000 personel. 4) Tentara khusus 2 Brigade. 5) Ribuan ranjau darat. 6) Tank yang dikerahkan terdiri dari : T-72 (700), T-62 (500), T-55/54 (500), Type 69 (350), Type 59 (150). 7) Kendaraan Pengangkut Personel 2.400. 8) Artileri 2.100. Kedua, Kekuatan Laut, terdiri dari 2.000 serdadu laut dengan 9 kapal perang ranjau dan rudal anti kapal bernama Silkworn, jumlahnya tidak diketahui. Ketiga, Kekuatan Udara. 1) Rudal Al Samoud 2. Sampai 12 Maret ini Irak sudah menghancurkan lebih dari 50 buah Al Samoud 2 dari total persediaan sekitar 100 buah. rudal Ababil-100 yang tidak diketahui jumlahnya beberapa ratus rudal Scud berjangkauan jauh. 2) Sekitar 100 helikopter penyerang, semuanya buatan Uni Soviet sekitar 275 helikopter pangangkut pasukan. 3) Sekitar 300 pesawat tempur, termasuk Mirage-F-1EQ buatan Prancis dan MiG-29, MiG-25, MiG-23, MiG-21 buatan Soviet. Pasukan Amerika dan Koalisinya. Untuk menyerang negara Irak, pasukan Amerika dan koalisinya mengerahkan kekuatan militer yang handal dibantu dengan alutsista yang modern, dengan susunan kekuatan meliputi : Pertama, Kekuatan Darat. 1) Amerika mengerahkan 450.000 personil dengan 2.000 tank jenis Bradlley dan MIA2 Brams dan Inggris mengerahkan 70.000 personel dan 200 tank jenis Challenger II serta didukung oleh kekuatan darat lainnya dari 14 negara. 3) Lebih dari 800 tank Abram M1 lebih dari 600 Bradley M2/M3 sekitar 120 tank tempur Inggris sekitar 150 kendaraan bersenjata Warrior Inggris. Kedua, Kekuatan Laut. 1) AS mengerahkan 108 kapal perang atas Air dan 13 kapal selam. 2) Auatralia mengerahkan 3 kapal laut. 3) Polandia mengerahkan 1 kapal logistik. 4) Inggris mengerahkan kapal perang atas air jenis Arh Royal, HMS Mery dengan + 3.000 personel. Ketiga, Kekuatan Udara. 1) Sekitar 100 pesawat Inggris, termasuk jet tempur Tornado, Harrier dan Jaguar. sekitar 500 pesawat tempur termasuk F-14, F-15, F-16, F/A-18, F-117, AV-8 dan A-10 lebih dari 30 pesawat pengembom berat, termasuk B-52, B-1B dan B-2. Puluhan ribu bom dan rudal, termasuk Munisi Serangan Langsung Gabungan yang dipandu satelit dan bom Paveway yang dikendalikan laser. 2) 1.000 rudal Tomahwk di kapal-kapal perang AS ratusan roket rudal anti-rudal Patriot, 3) Lebih dari 700 helikopter, termasuk Apache AH-64 dan Cobra AH-1. lebih dari 400 helikopter pengangkut pasukan, termasuk Black Hawk UH-60, CH-47 dan CH-53 yang berpangkalan di laut.
Dengan pengerahan kekuatan tersebut Amerika mulai melaksanakan kegiatan operasi patroli udara dan laut, operasi penyekatan udara dan laut, operasi intelijen dan menyusupkan atau mengadakan penggalangan di daerah-daerah sasaran strategis yang ditentukan. Operasi Pengamatan dan Pengintaian yang dilakukan dengan menggunakan teknologi satelit dan pesawat udara nir awak guna mendapatkan sebanyak mungkin data dan informasi tentang disposisi gelar kekuatan lawan guna dijadikan bahan bagi pimpinan untuk dapat mengambil keputusan yang tepat. Secara resmi perang dikobarkan setelah adanya ultimatum Presiden AS Geoge Bush 48 jam sebelum tanggal 24 Maret 2003 yang ditanggapi oleh Presiden Sadam Hussein. Strategi Penyerangan AS yang dipersiapkan yang terdiri dari : Pertama, Melaksanakan serangkaian serangan udara secara simultan untuk menghancurkan semua fasilitas utama yang memungkinkan rezim Sadam bertahan. Kedua, AS akan mendaratkan kekuatan amfibinya untuk menguasai kawasan penghasil minyak di sekitar Basrah dan wilayah negara Irak lainnya. Ketiga, Pasukan AS bersama sekutunya akan berusaha menguasai wilayah Kurdi di utara Irak. Keempat, Setelah serangan udara besar-besaran dan terputusnya akses rezim Sadam ke ladang minyaknya, pengerahan pasukan segera dilakukan menuju Bagdad dan memaksa Sadam dengan pasukan elitnya Garda Republik terkurung dengan peralatan yang minim dan tidak efektif. Dengan demikian Akhirnya Irak mengalami kekalahan dengan runtuhnya pemerintahan Presiden Saddam Hussein dan pendudukan kota Bagdad oleh Tentara Amerika.


Referensi :
- Wikipedia bahasa Indonesia, Invasi Irak 2003.
- Elba Damhuri, Dibalik Invasi AS ke Irak, Senayan Abadi Publising, Maret 2003.
- gagasmedia.net, Rahasia Invasi AS ke Irak.
- Sinar Harapan, Tak Seimbang Kekuatan Militer AS-Irak, 14 Maret 2003.

read more

Senin, 12 Desember 2011

Ayatollah Khoemeini

Senin, 12 Desember 2011
0 komentar

1.  Pendahuluan.  
  • Dalam pandangan Iran, pemerintahan Islam adalah pemerintahan rakyat dengan berpegang pada hukum Tuhan, di mana kepala pemerintahan tertinggi harus dipegang seorang faqih, yang ahli di bidang hukum Islam yang harus dilaksanakan oleh pemerintah. Dalam pemerintahan Islam model Shiah, kaum ulama menduduki posisi,  baik  sebagai pengawal (guardian  atau  wali), penafsir (interpreter)  maupun pelaksana (executor) hukum-hukum Tuhan. Oleh sebab itu maka pemerintahan yang demikian itu merupakan pemerintahan yang benar dan adil. Pemerntahan Islam harus bertindak sesuai dengan syari’at. Syarat-syarat tersebut asumsinya hanya bisa dipenuhi oleh para faqih. Kerenanya para faqih adalah figur yang dianggap paling siap memerintah masyarakat.
  • Ayatullah Khomeini  adalah seorang ulama besar yang dicintai rakyat Iran. Pada waktu Ayatullah Borujerdi menjadi ulama besar di Qum, Imam Khomeini telah menduduki tempat yang menonjol. Sepanjang masanya beliau berusaha untuk menyimpulkan satu realisme politik serta patuh kepada Ayatullah Borujerdi. Imam Khomeini membangun banyak pengikut di kalangan ulama muda di Qum dan tempat-tempat lain dan ini semua kemudian menjadi bagian penting sebagai kekuatan pengarah revolusi (Revolusi Islam Iran).  Dalam masa perjuangannya Ayatullah Khomeini merupakan pemimpin Islam yang memiliki misi yang didesain sebagai koreksi terhadap Barat dengan strategi menolak cara-cara Barat, agar menjaga Iran tetap berada pada akar Islamnya.
  • Ayatullah Khamaeini tanpa dukungan pendanaan dari sumber pendapatan yang handal, partai poliltik, kekuatan asing mana pun, dan tanpa melancarkan aksi-aksi perang gerilya, Imam meneguhkan diri sebagai pemimpin sejati yang patut dipercaya dari satu gerakan revolusi besar dan luhur.   Keberanian Khamaeini menantang Barat dan keberhasilan Revolusi Islam merupakan suatu nilai-nilai kepemimpinan yang patut dicontoh oleh para pemimpin kita.


2.         Ayatollah Khoemeini Dalam Kesehariannya.
o        Ayatullah Khomeini lahir di Khomein pada 24 oktober 1902. Khomein, merupakan dusun yang berada di Iran tengah. Keluarga Khomeini adalah keluarga Sayyid Musawi, keturunan Nabi melalui jalur Imam ketujuh Syi’ah, Imam Musa Al-Kazhim. Mereka berasal dari Neysyabur, Iran timur laut. Pada awal abad kedelapan belas, keluarga ini bermigrasi ke India, dan mukim di kota kecil Kintur di dekat Lucknow di kerajaan Qudh, yang penguasanya adalah pengikut Syi’ah Dua Belas Imam. Kakek Sayed Ruhullah Khomeini yang bernama Sayyid Ahmad Musawi Hindi, lahir di Kintur. Keluarga kakeknya adalah keluarga ulama terkemuka, Mir Hamed Husein Hindi Neysyaburi, yang karyanya, Abaqat Al-Anwar, jadi kebanggan Syi’ah India.
o        Sayyid Ahmad ini meninggalkan India pada sekitar tahun 1830 untuk pergi ziarah ke kota suci Najaf. Di Najaf dia bertemu seorang saudagar terkemuka Khomein. Menerima undangan sang saudagar, Sayyid Ahmad lalu pergi ke Khomein untuk jadi pembimbing spritual dusun itu. Di Khomein Sayyid Ahmad menikah dengan Sakinah, putri tuan rumahnya. Pasangan ini dikaruniai empat anak, antara lain Sayyid Mustafa, yang lahir pada 1856. Sayyid Mustafa belajar di Najaf, di bawah bimbingan Mirza Hasan Syirazi, kemudian pada 1894 kembali ke Khomein. Di sana dia menjadi ulama dan dikaruniai enam anak. Sayyid Ruhullah adalah yang bungsu dan satu-satunya yang panggilannya adalah Khomeini.
o        Semasa kecil, Sayyid Khomeini mulai belajar bahasa Arab, syair Persia dan kaligrafi di sekolah negeri dan di ‘maktab’. Menjelang dewasa, Sayyid Ruhullah mulai belajar agama dengan lebih serius. Ketika berusia lima belas tahun, dia mulai belajar tatabahasa Arab kepada saudaranya, Murtaza, yang belajar bahasa Arab dan teologi di Isfahan. Pada usia tujuh belas tahun Ruhullah pergi ke Arak, kota dekat Isfahan untuk belajar dari Syaikh ‘Abdul Karim Ha’eri Yazdi, seorang ulama yang terkemuka yang meninggalkan Karbala untuk menghindari pergolakan politik. Sikap ini kemudian mendorong kebanyakan ulama terkemuka untuk menyatakan penentangannya kepada pemerintahan Inggeris.   Setelah runtuhnya imperium ‘Utsmaniah, Syaikh Ha’eri enggan tinggal di kota-kota yang ada di bawah mandat Inggeris. Ia kemudian pindah ke Qum. Sayyid Ruhullah Khomeini lima bulan kemudian mengikuti jejak Syaikh Ha’eri pindah ke Qum. Di tempat yang baru ini Sayyid Ruhullah Khomeini belajar retorika syair dan tata bahasa dari gurunya yang bernama Syaikh Muhammad Reza Masjed Syahi.   Selama belajar di Qum, Sayyid Ruhullah Khomeini menyelesaikan studi fiqh dan ushul dengan seorang guru dari Kasyan, yang sebelas tahun lebih tua darinya, yaitu Ayatullah ‘Alio Yasrebi.
o        Pada awal tahun 1930-an, dia menjadi mujtahid dan menerima ijazah untuk menyampaikan hadis dari empat guru terkemuka. Yang pertama dari keempat guru itu adalah Syaikh Muhsin Amin ‘Ameli, seorang ulama terkemuka dari Lebanon, dimana Imam Musa Shadr di kemudian hari menggantikan kedudukan Amin sebagai pemimpin Syi’ah Lebanon.   Yang kedua adalah Syaikh ‘Abbas Qumi, ahli hadis terkemuka dan sejarawan Syi’ah. Qumi adalah penulis prolifik yang tulisannya sangat digemari di Iran modern, terutama bukunya yang berjudul Mafatih Al-Jinan (Kunci Surga).    Guru ketiganya adalah Abul Qasim Dehkordi Isfahani seorang mullah terkemuka di Isfahan.    Guru keempatnya adalah Muhammad Reza Masjed Syahi, yang datang ke Qum pada 1925 karena protes menetang kebijakan anti Islam Reza Syah. 
o        Pada usia dua puluh tujuh tahun, Sayyid Ruhullah menikah dengan Syarifah Batul, putri dari seorang ayatullah yang bermukim di Teheran. Mereka dikarunia lima orang anak, dua putra dan tiga putri.    Imam Khomeini wafat pada tanggal 3 Juni 1989 dengan memberikan sesuatu keyakinan kepada kaum Muslimin diseluruh dunia bahwa ajaran Islam merupakan ajaran yang mampu menuntun manusia pada kebenaran. Memang peranan dan kharismanya dalam Islam modern dan sejarah Iran tak dapat disangkal. Semoga harapan dan cita-citanya dapat menjadi kenyataan dalam sejarah umat Islam di dunia.[1]

3.         Kegiatan Ayatollah Khoemeini. 
o        Periode Pertama.   Masa kanak-kanak dan remaja dilewati oleh Sayid Ruhullah Khomeini ketika Iran sedang mengalami gejolak besar politik dan sosial. Sejak masa itu, Ruhullah telah mengenal dari dekat kesulitan yang dialami oleh masyarakat umum. Keterlibatan keluarganya dalam membela hak-hak kaum tertindas membuatnya kelak tumbuh menjadi pejuang hakiki. Ketika masih kanak-kanak ia sering melukiskan perasaannya yang memprihatinkan kondisi masyarakat sekitar dalam corat-coret buku gambarnya. Di masa remaja, perasaan itu semakin dalam ia rasakan.   Dalam salah satu buku tulisannya itu bisa disebut sebagai statemen politik pertama yang dibuat oleh Sayid Ruhullah remaja yang kelak akan memimpin bangsa Iran, sekaligus menunjukkan perhatiannya yang besar kepada nasib negeri dan bangsanya.  Sayid Ruhullah sangat tertarik kepada tokoh-tokoh pejuang. Ketika Mirza Kucik Khan Jangali bangkit berjuang dengan mengangkat senjata, Ruhullah ikut membantu menyampaikan pidato dan membaca syair tentang Mirza Jangali. Ia juga terlibat mengumpulkan dana untuk membantu gerakan Mirza. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk bergabung dengan kelompok Jangali dan bertemu Mirza.    Sayid Ruhullah Musavi (Mustafavi) memiliki kecerdasan yang luar biasa. Ia berhasil menguasai berbagai cabang ilmu. Selain ilmu fiqih, ushul dan filsafat, ia juga menguasai irfan. Kedalaman ilmunya diakui oleh para gurunya sendiri. Sayid Ruhullah belajar dari sejumlah guru di kota Khomein, Arak dan Qom. Hanya dalam waktu enam tahun ia berhasil mempelajari banyak cabang ilmu sebelum akhirnya mengukuhkan diri sebagai salah seorang ulama dan pengajar di pusat ilmu Islam di kota Qom. 
o        Periode Kedua.   Periode ini dimulai ketika Sayid Ruhulah Mosavi hijrah ke kota suci Qom. Saat itu, Reza Khan Pahlevi, raja pertama dinasti Pahlevi melanjutkan kebijakannya yang anti agama. Di masa ini, Sayid Ruhullah yang sedang sibuk dengan aktivitas belajar, mengajar dan menulis buku, mulai berkenalan dengan para ulama pejuang seperti Ayatollah Haj Agha Nurullah Esfahani, Ayatollah Modarres dan sejumlah nama besar lainnya. Di masa kekuasaan Reza Khan ini tercipta kondisi yang sangat mencekik. Karena itu para ulama berjuang untuk mempertahankan dan melindungi hauzah ilmiah yang merupakan pusat pendidikan agama Islam di Qom. Bisa dikatakan bahwa perjuangan mempertahankan hauzah di zaman itu tidak kalah pentingnya dari membentuk pemerintahan Islam yang kelak terjadi tahun 1979. 
o        Periode Ketiga.   Periode ini dimulai ketika Imam Khomeini (ra) menginjak usia 40 tahun. Saat itu terjadi dua peristiwa besar, pertama berkecamuknya Perang Dunia II dan jatuhnya Iran ke tangan pendudukan asing, dan kedua larinya Reza Khan ke luar negeri dan anaknya yang bernama Mohammad Reza naik ke singgasana kekuasaan.  Melihat kondisi yang ada, Sayid Ruhullah Mosavi merasa bahwa inilah saat yang tepat untuk melakukan gerakan kebangkitan demi memperbaiki kondisi negeri yang carut marut. Meski telah melakukan banyak usaha, namun kebangkitan yang diinginkan tidak terjadi. Imam Khomeini yang telah dikenal sebagai salah seorang ulama besar di Qom memiliki kecakapan yang seharusnya untuk memimpin sebuah gerakan kebangkitan rakyat. Beliau sudah merasakan 20 tahun kekuasaan Reza Khan dan memiliki wawasan politik yang luas. Pada tanggal 11 Jumada Thani tahun 1363 hijriyah atau sekitar tahun 1944 masehi, Imam Khomeini merilis sebuah statemen yang menyerukan rakyat bangkit dengan memanfaatkan kondisi yang ada. “Hari ini bertiup angin ruhani yang sejuk dan hari ini adalah hari yang paling baik untuk sebuah kebangkitan demi perbaikan. Jika kalian lewatkan kesempatan ini dan tidak bangkit demi ridha Allah serta tidak mengambalikan syiar agama ke posisinya semula, maka besok, orang-orang tak bermoral dan pengumbar Shahwat akan menguasai kalian. Mereka akan mempermainkan kehormatan kalian demi kepentingannya.” 
o        Periode Keempat.   Periode keempat kehidupan Imam Khomeini berbarengan dengan dua peristiwa duka. Pertama adalah wafatnya Ayatollah al-Udzma Boroujerdi pada tanggal 29 Maret 1961. Dengan wafatnya marji besar Syiah ini, dunia Islam kehilangan salah satu tokoh penting yang membentengi Islam, dan di sisi lain musuh-musuh Islam dan Iran bersuka cita atas kepergian Ayatollah Boroujerdi (ra). Peristiwa kedua adalah wafatnya Ayatollah Kashani, pejuang besar dalam melawan kekuasaan imperialisme Inggris. Nama Ayatollah Kashani cukup membuat hati penguasa Britania Raya dan musuh-musuh Islam bergetar. Wafatnya dua ulama besar ini terjadi seiring dengan dimulainya periode masuknya pengaruh Amerika Serikat (AS) di Iran.   AS gencar menekan rezim Shah Pahlevi untuk memberlakukan perubahan di semua bidang sesuai kemauan Washington. Imam Khomeini menangkap sinyal bahaya besar di balik perombakan gaya AS ini. Langkah-langkah rezim Pahlevi hanya akan membuka jalan bagi AS dan Israel untuk menguasai Iran. Imam Khomeini gencar mengingatkan semua pihak untuk menyadari bahaya dari langkah-langkah Shah. Rezim melakukan pembalasan atas gerakan Imam dengan sebuah tindakan yang brutal. Tentara dan dinas keamanan (SAVAK) tanggal 22 Maret tahun 1963, bertepatan dengan peringatan Shahadah Imam Jafar Shadiq (as), dikerahkan untuk menyerang madrasah Feiziyah di Qom, tempat Imam Khomeini mengajar. Banyak pelajar agama yang gugur Shahid dalam peristiwa itu.   Peristiwa Feiziyah semakin mendorong Imam Khomeini untuk melanjutkan gerakannya. Memperingati 40 hari gugurnya para pelajar Feiziyah, Imam Khomeini menyampaikan pidatonya yang berapi-api. Beliau mengumumkan tidak akan diam sebelum menundukkan rezim Shah. Malam harinya, Imam Khomeini ditangkap dan dijebloskan ke penjara Qasr. Pagi hari, berita penangkapan Imam Khomeini didengar oleh masyarakat luas di Tehran dan kota-kota lainnya.  Massa dalam jumlah besar berbondong-bondong memenuhi jalanan dan bergerak menuju istana Shah. Mereka berjalan dengan meneriakkan yel-yel “Khomeini atau Mati”. Dengan slogan ini mereka menuntut rezim untuk membebaskan ulama pejuang ini. Rezim pun melakukan tindakan brutal dengan membantai para demonstran. Korban pun berjatuhan.
Kepemimpinan Imam Khomeini dalam gerakan melawan Shah nampaknya reda ketika rezim mengasingkan beliau ke Turki lalu Irak. Namun aktivitas perjuangan Imam Khomeini tidak berhenti meski di pengasingan. Tahun 1978, putra tertua Imam Khomeini bernama Ayatollah Sayid Mostafa Khomeini dalam sebuah peristiwa mencurigakan didapatkan terbujur kaku di kamarnya. Banyak bukti yang mengarah kepada keterlibatan SAVAK dalam pembunuhan Ayatollah Mustafa yang selalu menyertai ayahnya dalam setiap langkah.  Syahidnya Ayatollah Mostafa Khomeini kembali menyulut gelora perjuangan yang selama ini dilakukan di bawah tanah. Gelora itu kian membara setelah koran Ettelaat memuat tulisan artikel yang menghujat Imam Khomeini dan kalangan ulama secara umum. Masyarakat Muslim menggelar aksi demo dan memprotes kekurangajaran koran Ettelaat. Aksi demo itu berujung pada peristiwa pembantaian yang dilakukan tentara terhadap warga kota Qom. Gerakan kebangkitan rakyat silih berganti terjadi di beberapa kota penting, Qom, Tabriz, Isfahan, Yazd, Shiraz dan kota-kota lainnya. Puncak politik tangan besi rezim Shah terjadi pada peristiwa yang dikenal dengan nama peristiwa 17 Shahrivar 1357.  Tiba tanggal 1 Februari 1979, Imam Khomeini segera memimpin langsung perjuangan rakyat Iran menumbangkan kekuasaan despotik Shah Pahlevi yang sudah di ujung tanduk. Tanggal 10 Februari, PM Shapour Bakhtiar mengeluarkan undang-undang darurat militer dan jam malam. Imam dalam sebuah amaran singkatnya menyebut jam malam tidak legal. Selama 24 jam terjadi bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara yang masih setia kepada rezim Shah.   Pagi hari tanggal 11 Februari 1979, dengan kaburnya Bakhtiar ke luar negeri, kekuasaan Shah Pahlevi berakhir. Sebagai gantinya berdiri pemerintahan baru dengan sistem Republik Islam.
Sejak kemenangan revolusi Islam hingga 2 Juni 1989 (hari wafat Imam Khomeini) terjadi banyak peristiwa penting di Iran yang menunjukkan betapa Amerika Serikat (AS) memusuhi pemerintahan Islam ini. Kelompok pemberontak sayap kanan atau kiri di Iran yang berusaha menumbangkan pemerintahan Islam didukung secara penuh, baik secara politik maupun financial, oleh Barat dan Timur. Adi daya dunia pun mendorong Saddam Hossein, dikatator Irak untuk menyerang Iran. Perang pun meletus dan berlangsung selama delapan tahun.  Berbagai makar dan tipu daya dalam skala besar dilakukan oleh adi daya Barat dan Timur untuk menggulung pemerintahan Islam di Iran. Namun berkat pertolongan Allah dan di bawah kepemimpinan Imam Khomeini, semua tipu daya itu dapat digagalkan dan pemerintahan Islam di Iran tetap berdiri dengan tegaknya.   Tanggal 2 Juni 1989, Imam Khomeini memenuhi panggilan Tuhannya. Rakyat Iran tenggelam dalam duka. Rasa duka juga dirasakan oleh jutaan pencinta Imam Khomeini di seluruh dunia. Imam Khomeini, sang Pemimpin Besar Revolusi Islam telah tiada, namun rakyat Iran tetap teguh memperjuangkan cita-citanya. Salam bagi Imam Khomeini (ra).[2]  

4.   Perjuangan Ayatollah Khoemeini.
  • Kemunculan Imam Khomeini secara menonjol dimulai sejak tahun setelah tumbangnya Mossadegh melalui coup d’etat yang dirancang CIA (dinas rahasia AS).   Pada tahun 1963, Syah Reza meresmikan pembukaan apa yang disebut sebagai “Revolusi Putih” oleh pers Barat dan mesin propaganda dalam negeri. Menurut Syah Reza, satu-satunya yang mengakibatkan ia patut disebut “putih” adalah bahwa karena ia direncanakan di Gedung Putih (Amerika Serikat / AS). Tentu saja, pastilah ia tidak putih dalam pengertian tidak menumpahkan darah; dan bahwa ia pun tidak pantas disebut “revolusi”. Bahkan sebaliknya, ia harus dipandang sebagai satu usaha untuk mencegah revolusi.   Yang disebut Revolusi Putih itu terdiri dari satu paket dari tindakan-tindakan yang dianggap sebagai strategi dan perencanaan untuk mereformasi masyarakat Iran, untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan pekerja industri, serta untuk mewujudkan emansipasi kaum perempuan. Di antara berbagai tindakan yang termasuk dalam rencana tersebut, ada dua yang ditonjolkan secara khusus: land reform dan hak-hak perempuan. Secara khusus, keduanya ditonjolkan dalam propaganda pemerintahan Syah Reza serta para pendukungnya yang berbangsa asing. Sebelum kita lanjutkan riwayat perjuangan Imam Khomeini menentang kediktatoran dan tirani, agaknya patut dikemukakan sedikit tentang sifat dari kedua kebijakan itu.  Slogan land reform di Iran adalah satu kamuflase penghancuran total ekonomi agraris yang direncanakan untuk memberikan jaminan keuntungan maksimum bagi keluarga raja, sebuah oligarki yang terikat kepada kepentingan agribisnis keluarga raja dan pihak asing, terutama perusahaan-perusahaan yang berpusat di Amerika Serikat, Eropa, dan Israel.   
  •  Setelah Imam Khomeini berbicara pada sebuah madrasah (hawzah) di Qum pada bulan Maret 1963 terjadilah serangan di madrasah tersebut oleh gabungan tentara dan polisi. Sejumlah orang syahid dalam peristiwa ini, sedangkan Imam Khomeini ditahan beberapa lama, kemudian dibebaskan.   Akan tetapi, segera setelah bebas, beliau meningkatkan intensitas dan frekuensi serangan-serangannya terhadap rezim tiranik. Pada bulan Juni tahun itu juga (1963) yang bertepatan dengan bulan Muharram Imam melancarkan kampanye menyeluruh dalam rangka pembentukan opini publik dengan menggerakkan, secara terkoordinasi, para pemimpin agama (ulama).  Melalui serangkaian deklarasi, beliau terus menyerang ketundukan Syah kepada kekuatan-kekuatan asing, terutama Amerika Serikat (AS) dan Israel, di samping juga tindakan Syah yang menginjak-nginjak ajaran Islam dan Undang-Undang Dasar Iran. 
  • Pada tanggal 15 Khordad (15 Juni 1963) terjadi kebangkitan besar serentak di berbagai kota di Iran, yang kemudian ditumpas secara sadis dan biadab oleh rezim Syah. Perlu diketengahkan bahwa sebelumnya, Syah juga gemar memberikan perintah kepada para polisi rahasia dan tentaranya untuk menembak mati siapa pun yang menjadi targetnya. Menurut perkiraan, pada hari itu (15 Juni 1963) — dan pada saat-saat lain yang memiliki hubungan dengannya — ada sekitar 15.000 rakyat yang terbunuh. Akibat dari peristiwa tersebut Imam Khomeini ditangkap lagi, kemudian diasingkan ke Bursa di Turki. Dalam hubungan ini, yang menarik adalah bahwa selama berada di Turki, Imam ditahan di suatu rumah yang dijaga ketat oleh polisi Iran, padahal hal tersebut jelas bertentangan dengan hukum yang berlaku di Turki. Namun, ini mudah dipahami karena Perdana Menteri Turki pada masa itu adalah Suleyman Demirel, yang konon dikenal sebagai anggota “freemason”. 
  • Pada bulan Oktober 1965, Imam Khomeini diperbolehkan meninggalkan tempat pengasingan di Bursa untuk dipindahkan ke lingkungan yang lebih sesuai, yakni di Najaf, sebuah kota di Irak yang menjadi salah satu pusat pendidikan masyarakat Syi’ah dan juga sebagai tempat perlindungan pemimpin-pemimpin agama dari Iran. Sebagai misal, pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 sejumlah pemuka agama yang mendukung gerakan konstitusi dan boikot tembakau (di Iran), memberikan pengarahan-pengarahannya dari tempat ini karena dianggap relatif aman.  Kendati demikian, kepindahan Imam ke Najaf tidak berarti beliau telah menemukan tempat yang benar-benar aman. Terbukti, Imam sering mendapat gangguan dari para pengikut Partai Ba’ath (sebuah partai berhaluan sosialis-nasionalistik) yang kebetulan sedang melancarkan aksi penindasan umum terhadap rakyat Irak. 
  • Dari Najaf, Imam Khomeini melanjutkan pengarahan-pengarahan secara berkala, terutama dengan mengeluarkan deklarasi-deklarasi terkait dengan berbagai persoalan yang dihadapi rakyat dan bangsa Iran. Sebenarnya, Syah sangat berharap bahwa dengan mengasingkan Imam dari Iran, maka pengaruh dan popularitasnya akan berakhir. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Syah dibuat frustrasi.   Pers Barat berpendapat bahwa kemunculan Imam Khomeini secara menonjol dalam memimpin “revolusi” adalah sebagai akibat dari adanya kevakuman pemimpin ummat (rakyat), dan karena tidak adanya alternatif pemimpin lain yang dianggap cocok. Tetapi penilaian seperti ini lebih disebabkan ketidaktahuan mereka tentang perkembangan bertahap terkait dengan peran Imam Khomeini, terutama selama masa pengasingan beliau lebih dari 14 tahun. Misalnya saja, selama beliau diasingkan di Najaf, beliau tidak tinggal diam. Justru dari sana beliau mengeluarkan sejumlah maklumat terkait dengan berbagai persoalan yang dihadapi oleh bangsa dan rakyat Iran. Tentu saja, maklumat-maklumat tersebut berpengaruh besar dalam pembentukan opini publik di Iran.   Pada bulan April 1967, Imam Khomeini mengirimkan surat terbuka kepada Perdana Menteri Iran, Amir Abbas Hoveyda, yang isinya menentang Hoveyda dan Syah atas pelecehan mereka yang terus-menerus terhadap ajaran Islam dan Undang-Undang Dasar Iran.   Imam juga mendasarkan perjuangannya dengan melakukan survei yang luas atas berbagai kebijakan pemerintah, kemudian mengkritiknya satu demi satu, seraya memperingatkan penguasa bahwa pada satu saat mereka akan dituntut untuk bertanggungjawab.   Dapat dibayangkan bagaimana perasaan tidak percaya dan ejekan Hoveyda ketika menerima surat itu, mengingat Imam masih berstatus sebagai seorang yang terasing dan pengikut-pengikutnya banyak disembelih di jalan-jalan.  Namun, hal itu patut dipandang sebagai salah satu ciri khas yang menonjol dari kepribadian Imam, bahwa setiap perkataan yang telah dilontarkannya pastilah dimaksudkan secara bersungguh-sungguh. Dan itu, tentu saja, berkontribusi positif terhadap keefektifan kepemimpinannya. Peringatan Imam kepada Hoveyda tersebut kelak terbukti kebenarannya, di mana pada tahun 1979 (setelah kemenangan Revolusi Islam Iran), Hoveyda dieksekusi mati oleh Pengadilan Revolusi.
  • Pada bulan Mei 1970, Imam Khomeini ketika berada di pengasingan, yang memiliki hubungan dengan serangkaian peristiwa yang terjadi pada bulan Mei 1970. Pada saat itu, sebuah konsorsium penanaman modal Amerika Serikat menyelenggarakan konferensi di Teheran untuk membicarakan jalan terbaik dan paling efektif dalam rangka eksploitasi ekonomi dan sumber daya alam Iran.  Menyusul peristiwa ini, salah seorang pengikut Imam Khomeini, Ayatullah Saidi, mengeluarkan deklarasi dalam masjid yang dipimpinnya di Teheran. Inti deklarasi itu adalah menentang konferensi tersebut dan menyerukan rakyat Iran untuk bangkit dan memprotesnya. Ia kemudian ditahan dan dianiaya hingga syahid oleh polisi rahasia, SAVAK. Atas kejadian ini, Imam Khomeini mengeluarkan seruan kepada rakyat Iran untuk memperbaharui dan menyegarkan perjuangan mereka melawan rezim Pahlevi. 
  • Pada tahun 1971 dan selama masa revolusi, Imam mengeluarkan seruan atau deklarasi-deklarasi kepada dunia Islam, tentu saja diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, dan antara lain dibagi-bagikan selama musim Haji. Dalam deklarasi-deklarasi ini, beliau menganjurkan pentingnya membangun solidaritas dan kerjasama di kalangan kaum Muslimin sedunia untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi bersama.[3]
4.         Uraian tentang Ayatollah Khoemeini.
  • Ayatullah Ruhullah Khomeini berasal dari keluarga yang sangat religius. Baik ayahnya, Ayatullah Sayyid Mustafa al-Musavi al-Khomeini, kakeknya Sayyid Ahmad Hindi lahir di kintur, maupun kakek ayahnya, Sayyid Din Ali Syah, dikenal sebagai tokoh agama yang disegani pada masanya.   Hal ini menunjukkan bahwa keluarga Ayatullah Khoemeini merupakan keluarga yang selalu taat kepada ajaran Islam dan agama sebagai jalan meniti hidup yang dibarengi dengan kemuliaan dan penghormatan serta keluarganya merupakan keluarga yang terpelajar Syiah di desanya.   Disamping itu walaupun keluarganya merupakan keluarga yang terpandang di Iran namun beliau dalam kehidupan pribadinya sebagai seseorang yang hidup  sangat sederhana.
  • Dari pembahasan tentang kehidupan pribadi Ayatullah Khomeini sesungguhnya nampak sejak masa remajanya sebagai anak yang energik, berani, cerdas, punya tekad besar, disiplin, berkerja keras, suka merenung, dan senantiasa membela yang lemah serta pribadi Imam Khomeini penuh dengan semangat religius dan kepercayaan tinggi terhadap diri sendiri.   Bahkan, tidak jarang Khomeini kecil pulang dengan baju yang kotor dan robek karena permainan fisik dengan sesamanya, demi membela kebenaran.   Hal itu tentu saja tidak terlepas dari didikan keluarga dan pengaruh ibunya, bibinya, dan garis keturunan kelurganya yang terkenal sebagai pembela kaum tertindas. Kepribadian, kesederhanaan, kecerdasan, serta penguasaan Imam Khomeini tersebut dapat terus dipertahankan pada perjalanan kehidupan selanjutnya.
  • Seiring dengan bertambahnya usia, semakin berkembang pula citra yang melekat pada dirinya. Beliau terkenal hidup sebagai seorang zahid yang sejati dan sederhana, serta senantiasa menyesuaikan diri antara ucapan dan tindakan kesehariannya. Bahkan, harta yang dimiliki oleh sang Imam hingga akhir hayatnya, hanyalah sebuah rumah sederhana yang telah diwakafkan pada dewan Revolusi, alat masak sekedarnya, tempat duduk belajar sekaligus untuk tidur, serta beberapa alat ibadah dan buku.   Hal itu tentu saja menyentakkan kesadaran banyak orang yang pernah berkunjung ke rumahnya, baik pasca revolusi ataupun pasca wafatnya sang Imam. Bahwa, betapa kehidupan Imam Khomeini yang sebetulnya bisa saja memanfaatkan kebesaran nama dan pengaruhnya untuk kehidupan pribadi sebagaimana dilakukan banyak penguasa, namun beliau sama sekali tidak mau mencampuradukkan urusan pribadi dan negara. 
  • Dalam berbagai aktivitasnya sehari-hari, telah banyak berbagai peristiwa yang menonjol hal ini dapat dilihat dari 4 (empat periode) dimana Ayatullah Khoemeni berjuang untuk memperjuangkan Revolusi Islam Irak.   Walaupun dengan banyak peristiwa yang beliau lalui namun beliau tidak meninggalkan kewajiban sebagai seorang hamba Ilahi yang selalu taat beribadah kepada Allah SWT.   Ayatullah menjadi salah satu tokoh di dunia Islam yang Revolusioner dan tepat sekali bila masyarakat di dunia Islam khususnya memandang beliau sebagai figur pemimpin yang kharismatik dan berani dalam bertindak melawan kezaliman. beliau adalah pembela kaum terpinggirkan dan berjuang dalam agama Ilahi, individu yang penyayang dan peka terhadap masalah kemanusiaan, melalui beliau sebuah negara dengan pola kerajaan dan sistem perbudakan modern  bak pintu penghalang bagi kehormatan manusia beliau luluhlantahkan, melalui beliau lahir gerakan demi kebebasan tanah Palestina dan banyak lahir individu-individu sebagai tokoh terpelajar dan arif  lahir dari buaian kasih sayang dan keluhuran ilmu beliau. 
  • Ayatullah Khomeini dalam berbagai aksi perjuangannya telah memberikan suatu pencerahan bagi umat Islam di dunia dalam menentang kaum Barat.   Imam Khomeini sang pencetus Revolusi Islam bukan sekedar pemimpin politik dan revolusi. Sosok yang tak pernah kenal lelah ini selama bertahun-tahun menghabiskan usianya untuk memberi penerangan kepada rakyat dan menyeru untuk memerangi kezaliman dan ketidakadilan. Keperibadian beliau melampaui batasan manusia biasa yang terkekang dengan fisik kasarnya. Beliau seorang ulama yang mengikuti dan meneruskan jejak para nabi serta senantiasa meneriakkan kebenaran dan keadilan sebagai hakikat penciptaan.  Oleh karena itu, revolusi yang dipimpin Imam Khomeini tidak terbatas pada rakyat Iran. Revolusi Islam bersumber pada Al-Qur'an dan Islam yang mengajak umat manusia ke arah kebenaran dan kebebasan serta keadilan. Nilai-nilai luhur ini bukan hanya dihormati rakyat Iran, namun juga seluruh bangsa di dunia. Dunia modern pun tak luput dari pengaruh revolusi besar ini yang menyerukan kebebasan dan independensi. Dengan cepat revoluisi ini menyebar ke seluruh penjuru dunia dan telah berhasil menyadarkan berbagai bangsa dunia dari tidur panjangnya. 
  • Revolusi Islam Iran sebagai revolusi idiologi dan religi terbesar dunia modern memiliki posisi penting. Keistimewaan yang dimiliki revolusi ini yang menjadikannya berbeda dengan revolusi-revolusi dunia lainnya adalah sisi modernisitas yang terkandung di dalamnya. Hal inilah yang menyebabkan revolusi ini hingga kini terus mendapat perhatian para pengamat politik dan sosial meski telah berusia tiga dekade. Meski demikian, kita menyaksikan upaya besar-besaran media Barat untuk mencitrakan bahwa revolusi Islam Iran telah habis masanya dan sistem yang diusung revolusi ini telah usang dan tidak mampu menjawab tantangan zaman.   
  • Ayatullah Khomeini merupakan seorang pemimpin yang berani, luas pengalaman dan tegas. Pemimpin ini telah menggariskan perjalanan bangsa Iran. Ia muncul dengan mengusung ide bahwa politik harus bergandengan dengan etika dan agama. Oleh karena itu, yang berhak menjadi pemimpin adalah pribadi cerdik dan bertakwa serta menyerukan keadilan sehingga dunia dipenuhi perdamaian. Revolusi Islam memberikan harapan kepada manusia yang hidup di bawah tekanan kezaliman.  Revolusi Islam terbentuk dengan nilai-nilai kemanusiaan dan religius. Demi membangun masyarakat yang berlandaskan Al-Qur'an, revolusi telah mengorbankan banyak syuhada. Ciri yang menonjol dalam gerakan ini adalah keikhlasan, ketegaran dan persatuan. Revolusi Islam sebagai gerakan yang hidup dan tegar berhasil menghadirkan Islam di kancah politik dan sosial. Revolusi ini juga berhasil membuktikan bahwa agama mampu membawa manusia kepada kebahagiaan dalam kehidupan ini.

5.     Kepemimpinan Ayatullah Khomeini.  Ayatullah Khomeini merupakan seorang pemimpin Islam Iran.  Pemimpin Islam berbeda dengan pemimpin-pemimpin lainnya seperti raja atau presiden. Pemimpin Islam adalah seorang pemimpin yang selalu berada di tengah-tengah masyarakat.  Didalam melaksanakan kepemimpinannya dia menerapkan perpaduan gaya kepemimpinan demokratis dan paternalistis.   Dalam gaya kepemimpinan demokratis  dia merupakan sosok pemimpin yang selalu membimbing kepada rakyatnya untuk selalu dalam ajaran Islam dan selalu bersifat terbuka dalam setiap permasalahan yang dihadapi  di negaranya.  Dalam revolusi Islam Iran, figur Imam Khomeini tentu tidak bisa dilepaskan sebagai pemimpin yang sangat signifikan kedudukannya dalam revolusi tersebut. Di samping itu, beliau juga menjadi kepala Wilayah al-Faqih pertama yang bertugas mengatur dan mengawal jalannya pemerintahan pasca revolusi 1979. Meskipun banyak figur-figur lain seperti Ali Syari'ati, Murtadha Muthahhari, serta M Baqir Al-Sadr, namun kharisma dan pengaruh politik Imam Khomeini melampaui mereka semua.   Dalam Revolusi Islam, keberadaan seorang pemimpin yang bijak dan berpengaruh merupakan salah satu karakter utama yang membedakannya dengan revolusi-revolusi yang lain. Di sepanjang kepemimpinan Imam Khomeini, Revolusi Islam menjadi sasaran beragam konspirasi dan tekanan musuh yang berupaya untuk melencengkan langkah revolusi ataupun memusnahkannya secara total. Namun, semua tantangan itu berhasil dilumpuhkan oleh kepemimpinan Imam Khomeini.   Imam Khomeini merupakan sang pemimpin bijak dan faqih  sebagai pelopor gerakan iman dan amal. Keimanannya mampu membasahi seluruh jiwanya hingga kalbu-kalbu tak beriman dan wadah-wadah hampa terpenuhi dengan luapan iman yang bersumber darinya pada tataran amal.    Sedangkan dalam gaya kepemimpinan Paternalistis dia merupakan sosok seorang ayah yang senantiasa melindungi rakyatnya dari segala penindasan dan kezaliman kaum Barat sehingga dia menjadi panutan bagi rakyatnya  dan membebaskan umat Islam dari belenggu penguasa zalim serta membimbing mereka kepada ajaran para Nabi.
Adapun sifat-sifat kepemimpinan Ayatullah Khoemeini yang dapat diteladani dan relevansinya dengan sifat-sifat kepemimpinan TNI adalah mempunyai keberanian, tegas, bijaksana, berpengetahuan, bersemangat, berinisiatif, ulet, loyal, Integritas, dapat dipercaya dan tidak mementingkan diri sendiri.
Ciri-ciri kepemimpinan yang dimiliki oleh Ayatullah Khoemeini  yaitu memiliki moril yang tinggi dalam memperjuangan Umat Islam Iran terhadap kaum penindas dan kezaliman kaum Barat.   Imam Khomeini sepanjang hidupnya tidak pernah membatasi diri pada georgafi tertentu dan sejarah kontemporer.   Dia telah memperkenalkan kehidupan yang dibarengi dengan semangat spiritual.   Dengan moril yang tinggi serta dibarengi dengan akar ajaran Islam dalam memperjuangan Revolusi Islam Iran  telah dapat mengubah kedudukan dan supremasi negara-negara di dunia.     Disamping itu beliau juga mempunyai kedisiplinan yang selalu taat terhadap ajaran Islam dan mempunyai keikhlasan, ketegaran dan persatuan. Revolusi Islam sebagai gerakan yang hidup dan tegar berhasil menghadirkan Islam di kancah politik dan sosial. Revolusi ini juga berhasil membuktikan bahwa agama mampu membawa manusia kepada kebahagiaan dalam kehidupan ini.

6.         Kesimpulan.   Dari uraian diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Ayatullah Khoemeini tidak dapat dipisahkan dari Republik Islam Iran dan Revolusi Islam.   Dapat kita katakan bahwa nama besar Imam Khomeini sebagai pendiri Revolusi Islam tidak akan pernah hilang dari ingatan dan selalu dikenang. Beliau adalah pelita yang menerangi orang-orang muslim yang sedang bersedih dan merundung. Beliau juga membimbing orang-orang yang merdeka dan pencari keadilan dengan cahaya dan kebenaran. Oleh karena itu, Ayatullah Khomeini dikenal sebagai tokoh yang membawa kemuliaan bagi umat Islam dan sosok yang
menghidupkan kembali agama Islam di era modern. Ayatullah Khomeini dan revolusi akan selalu disebut setiap kali berbicara keadilan dan kaum tertindas. Beliau memperkenalkan agama sebagai jalan meniti hidup yang dibarengi dengan kemuliaan dan penghormatan.  Umat Islam dunia juga masih tetap mengenang Ayatullah Khomeini sebagai simbol kesucian, ketakwaan, serta tokoh yang merakyat, berani, dan tidak mengenal kompromi.  Imam Khomeini sebagai pemikir bagi kebangkitan umat Islam merupakan seorang pribadi suci. Sebagai seorang pakar fikih, ahli irfan, dan pemimpin yang berani, beliau telah berjuang mereformasi pondasi-pondasi masyarakat Iran.  Beliau juga telah membangun sistem yang berasaskan ajaran Islam dengan kemenangan revolusi. 


[1] http://my.opera.com/ayatullah%20khomeini/blog/kisah-ayat
[2] zarpatista.wordpress.com/2010/02/13/ayatullah-khomeini/ 
[3] Ringkasan Biografi Imam Khomeini (Dikutib dan diedit dari Majalah Yaum Al-Quds, No 10, Zulqaidah 1403 H oleh Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional — Forum SPTN, Jakarta)


read more

Perang Vietnam Tahun 1964

0 komentar


1.         Pendahuluan.
  • Perang Vietnam, atau disebut juga dengan Perang Indochina Kedua, adalah sebuah perang yang terjadi antara 1957 dan 1975 di Vietnam. Perang ini merupakan bagian dari Perang Dingin.   Dua kubu yang saling berperang adalah Republik Vietnam (Vietnam Selatan) dan Republik Demokratik Vietnam (Vietnam Utara). Amerika Serikat, Korea Selatan, Thailand, Australia, Selandia Baru dan Filipina bersekutu dengan Vietnam Selatan, sedangkan Uni Soviet dan Tiongkok mendukung Vietnam Utara yang merupakan negara komunis.   Vietnam bernama resmi Republik Sosialis Vietnam adalah sebuah negara di Asia tenggara. Vietnam berbatasan dengan Cina di sebelah utara, laos di sebelah barat laut, Kamboja di sebelah barat daya dan di sebelah timur terbentang Laut cina selatan. Dengan populasi sekitar 84 juta jiwa, Vietnam adalah salah satu negara terpadat di Asia Tenggara.   
  • Vietnam  dalam perjuangan kemerdekaannya pernah menjadi acuan, rujukan dan tolok banding bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Artinya dia dijadikan acuan kebanggaan. Perjuangan Vietnam memang hebat. Vietnam mengalami momen "merdeka" beberapa kali. 
  • Pernah merdeka dari pengaruh kekuasaan Cina yang berabad-abad, kemudian merdeka dari penjajahan Prancis, dan pendudukan tentara Jepang. Kemudian, merdeka dari pemerintahan boneka Jepang pada tanggal 2 September 1945. Saat itulah, Vietnam diproklamasikan oleh Ho Chi Minh. Tapi kemudian Prancis atas nama Sekutu datang kembali, yang akhirnya digempur oleh gerilya Vietnam sampai Prancis kalah di Benteng Dien Bien Phu tahun 1954. Kemudian Perang Dingin antara dua blok dunia membawa campur tangan militer Amerika, yang berekor dengan perang yang panjang dan gigih, sampai tahun 1975. 
  • Kemerdekaan menjadi bagian dari jati diri Vietnam, bagi Vietnam, kemerdekaan bangsa bukan sekadar bebas dari penguasa asing, tapi merupakan perjuangan kebebasan, perjuangan anti-fasis.  Vietnam adalah sebuah bangsa yang kepala batu. Bagi Vietnam, sikap keras kepala adalah tuntutan sejarah untuk merebut kemerdekaan dan kebebasan.    Ho Chi Minh, proklamator kemerdekaan itu, sebelum negerinya merdeka sudah menunjuk bahwa semua perjuangan itu tak ada artinya bila kemerdekaan itu tidak segera diisi dengan perjuangan melawan kemiskinan dan memperluas pendidikan.   Ho Chi Minh memang pantas jadi Bapak Negara ini. Vietnam berjuang gigih untuk merdeka dengan janji untuk kemerdekaan dan kebebasan rakyatnya.   

  
2.    Latar Belakang.   Perang ini secara umum terjadi karena besarnya semangat nasionalisme rakyat Vietnam yang menginginkan kemerdekaan dan dampak timbulnya perang dingin di Asia Tenggara. Penyebab khusus perang diawali adanya kampanye anti komunis yang dilakukan Ngo Dinh Diem di Vietnam Selatan, dengan cara melakukan penangkapan terhadap kader dan simpatisan komunis serta tidak melaksanakan pemilihan umum bagi unifikasi kedua Vietnam di tahun 1956 sesuai dengan Perjanjian Jenewa 1954, di samping itu terjadinya insiden Teluk Tonkin 1964 juga ikut menjadi faktor utama keterlibatan Amerika Serikat dalam perang itu.    Dampak penting yang terjadi setelah Perang Vietnam yaitu pertama, dalam bidang politik, terbentuknya pemerintahan unifikasi (Republik Sosialis Vietnam), adanya pelarangan partai politik lain di luar komunis dan pendirian kamp reeducation bagi bekas pendukung pemerintah Vietnam Selatan. Selain itu dampak dalam bidang sosial, munculnya masalah manusia perahu yang melarikan diri dari Vietnam akibat tekanan politik dan kondisi ekonomi, dan timbulnya gangguan kesehatan bagi rakyat Vietnam.  

3.       Ulasan Perang Yang Terjadi.   Perang Vietnam yang terjadi antara Vietnam Utara yang dibantu dengan persenjataan oleh Uni Soviet dan RRC melawan Vietnam Selatan yang dibantu dengan persenjataan dan pasukan yang cukup besar dari Amerika Serikat dan beberapa sekutunya. Amerika Serikat mengerahkan pasukan yang terlatih dengan baik dan dilengkapi persenjataan canggih sehingga udara dan laut dikuasai oleh Amerika Serikat. Pada pertempuran di darat pasukan Amerika yang didukung kekuatan udara dan senjata bantuan yang canggih telah dapat memenangkan beberapa pertempuran terbuka.   Dengan mengerahkan serangan udara yang sistematis pasukan Amerika Serikat dan Vietnam Selatan berusaha menghancurkan pasukan Vietnam Utara dengan menimbulkan korban yang besar serta memotong jalur logistiknya dan serangan udara juga sering dilakukan ke pusat pemerintahan di Hanoi, namun hal ini tidak menurunkan semangat juang pasukan Vietnam. Berlarutnya perang Vietnam dan korban yang ditimbulkan sangat besar serta menyedot anggaran negara yang sangat besar telah menyebabkan munculnya penentangan yang sangat kuat dari rakyat Amerika dan mendesak agar perang Vietnam segera diakhiri, serta lemahnya motivasi dan semangat juang tentara Amerika yang berperang di Vietnam telah mempercepat proses kekalahan Amerika dalam perang Vietnam, sehingga pada tahun 1975 tentara Vietnam Utara berhasil merebut kota Saigon ibukota Vietnam Selatan dan mengakhiri perang Vietnam.
Pada ajang perang Vietnam, persenjataan telah makin berkembang termasuk penggunaan pesawat-pesawat tempur jet yang bahkan telah memasuki era jet supersonik. AS menggunakan F-105 dan F-4 Phantom untuk menghadapi pesawat Rusia yang terdiri dari MiG-17 dan MiG-21.    Pada perang Vietnam inilah untuk pertama kali digunakan secara besar-besaran surface-to-air missile (SAM) sebagai salah satu komponen penting dalam sistim pertahanan udara. Teknologi elektronik juga menjadi sangat berpengaruh dalam perang ini dengan mulai banyak digunakannya bom laser-guided maupun yang optically-guided. Demikian pula penggunaan sistem deteksi rudal serta radar-jamming countermeasures. Juga roket baik yang air-to-air maupun yang air-to-ground.    Penggunaan kapal induk sebagai pangkalan pesawat-pesawat tempur menjadi begitu berperan dibanding dengan apa yang dilakukan pada Perang Dunia Kedua. Disamping itu dalam Perang Vietnam inilah dikembangkan sistem pengisian bahan bakar pesawat di udara oleh pesawat terbang tanker sebagai upaya AS dalam meningkatkan radius of action serta kemampuan manuver pesawat-pesawat tempurnya dalam melawan pesawat-pesawat produk Rusia. 

Dalam ajang Perang Vietnam terlihat AS agak kewalahan dalam menghadapi keampuhan pesawat-pesawat tempur buatan Rusia. Untuk air-to-air combat Vietnam menggunakan MIG-17 dan MiG-19, sementara AS mengandalkan F-4 Phantom-nya. Pesawat AS lainnya yang banyak terlibat dalam perang Vietnam antara lain F-100, OV-10 Bronco, C-123, C-130 dan C-7 Trash Haulers, selain itu digunakan pula F-105, F-111 dan B-52 sebagai pembom.    Pada Perang Vietnam ini pulalah pesawat helikopter meningkat menjadi senjata tempur yang signifikan dengan pengembangan perannya dalam misi-misi observasi, combat tactical transport dan combat medical evacuation.    Tercatat pula dalam perang Vietnam ini, pengembangan pesawat C-47 Dakota yang dipersenjatai senapan mesin kaliber 12,7 mm di ekornya, sangat banyak membantu gerakan pasukan darat di bawah, pesawat ini dikenal kemudian dengan C-47 gun-ship. 

Pada perang ini Rusia menggelar 2.300 surface-to-air missiles, ribuan penangkis serangan udara berbagai kaliber serta tidak kurang dari 180 pesawat MiG.


Vietnam utara dan Vietnam Selatan yang sedang dilanda perang mempunyai personil pasukan dan kekuatan persenjataan yang berbeda-beda. secara resmi AS terlibat langsung dalam perang tersebut, khususnya dalam insiden Teluk Tonkin.  Vietnam Utara dan Selatan yang dipisahkan oleh apa yang disebut Daerah Bebas Militer yang terletak pada garis 170 Lintang Utara sebagai hasil Persetujuan Jenewa mengenai Indo-Cina ditahun 1954, sekarang masing-masing berpenduduk sekitar 20 dan 18 djuta jiwa. Persetujuan Jenewa yang juga melahirkan negara-negara merdeka Kamboja dan Laos itu, tidak disertai oleh Amerika Serikat dan Vietnam Selatan. Vietnam Utara mendapat bantuan perlengkapan militernya bagian terbesar dari Uni Soviet yang hanya sebagian kecil saja yang diperolehnya dari RRC. Tapi sebaliknya RRC mengirimkan personil militer ke Vietnam Utara 10 kali lebih besar dari pada Uni Soviet. Diperkirakan personil militer RRC di Vietnam Utara sekitar 10.000 orang. Bagian terbesar dari jumlah itu adalah tenaga-tenaga zeni-tempur yang juga turut beroperasi dengan pasukan-pasukan Vietnam Utara sampai ke Laos.  Secara resmi AS terlibat langsung dalam perang di Vietnam sejak tahun 1964, ketika Presiden Johnson berhasil mendapatkan mandat dari Congress untuk menggunakan kekuatan militer AS secara langsung di Vietnam jika dipandang perlu. Itu terjadi dipertengahan bulan Agustus 1964 ketika dua buah kapal Perusak AS masing-masing USS Maddox dan USS C. Turner Joy yang sedang berada di Teluk Tonkin mendapat serangan dari kapal torpedo Vietnam Utara. Sampai kini tidak terlalu jelas mengapa sampai terjadi penyerangan yang dikenal sebagai "Insiden Teluk Tonkin" itu. Tapi dalam dokumen rahasia Pentagon, insiden itu memang direncanakan oleh pemerintah Johnson agar Kongres AS memberikan mandat kepada Jhonson untuk menggunakan kekuatan militer di Vietnam. Tapi secara tidak resmi AS sesungguhnya telah lama melibatkan diri disana paling tidak sejak tahun 1961.

Dalam perang Vietnam tahun 1964,  Pihak Vietnam Utara yang dibantu oleh Uni Soviet dan RRC menggunakan doktrin sistem pertahanan semesta yang lebih menitik beratkan pada jumlah atau kuantitas untuk menutupi kekurangan kualitas peralatan dan prajuritnya serta menempatkan dirinya sebagai pihak yang bertahan dan mencegat dengan “war attrition”, mencoba menghabiskan tenaga lawan.   Sedangkan Pihak Koalisi menerapkan doktrin perang terbuka dengan menggunakan seluruh kekuatan baik darat, laut dan udara dengan menitik beratkan pada kualitas dan keunggulan teknologi dari AS dan sekutunya. 
Secara moril tentara AS dan sekutunya merupakan tentara yang terlatih ditambah dengan alut sista yang modern untuk melaksanakan operasi militer dalam rangka menghancurkan kekuatan Vietnam Utara yang memiliki moril dan daya juang yang sangat tinggi.    Namun walaupun  demikian moril pasukan AS dengan masa tugas yang sangat lama, tidak cukup untuk membentuk seorang prajurit yang tangguh dan baik, apalagi banyaknya prajurit baru yang berdatangan silih berganti membuat teamwork hancur.  Dan juga kebanyakan dari prajurit AS  bertindak “playing safe” mereka menjadi prajurit yang tidak efisien sama sekali.   Sedangkan di pihak Vietnam Utara mereka melihat perang ini adalah sebagai perang untuk rakyat, mereka rela berkorban segalanya untuk rakyat.

Ho Chi Minh  merupakan seorang proklamator kemerdekaan Vietnam Utara, sebelum negerinya  merdeka sudah menunjuk bahwa semua perjuangan itu tak ada artinya  bila kemerdekaan itu tidak segera diisi dengan perjuangan melawan  kemiskinan dan memperluas pendidikan.     Ho Chi Minh sebagai tokoh pemimpin Vietnam Merdeka pada akhir 1945 pernah mengajak para pemimpin lainnya tidak terkecuali kepada pemimpin Indonesia (Ir. Sukarno) untuk mengkoordinasikan perjuangan mereka masing-masing dalam menghadapi "imperialisme dan kapitalisme Barat".    Ideologi yang dianut Ho Chi Minh dan kawan-kawannya cenderung kekiri-kirian. Karena Asia Tenggara setelah negara-negara Barat berhasil mengalahkan Jepang di Asia termasuk zona pengaruh mereka, tidaklah realistik untuk secara provokatif berkonfrontasi dengan mereka dengan ideologi yang mereka tidak sukai.     Perjuangan yang ditunjukkan Vietnam dalam menghadapi AS dan sekutunya sangat luar biasa sengitnya dengan pengorbanan melebihi daya mampu yang normal yang harus ditanggung Vietnam dengan kepemimpinan Ho Chi Minh sungguh mengesankan.    Meskipun sebagai kompromi dalam Konperensi Internasional di Jenewa, Ho Chi Minh dan kawan-kawan terpaksa menerima "untuk sementara" Vietnam dipenggal dua.   
Kepemimpinan Ho Chi Minh setelah mengadakan koreksi kedalam, mampu mengubah mentalitas perang ke mentalitas pembangunan.   Hanoi dapat segera menyesuaikan diri setelah Uni Soviet ambruk dan Republik Rakyat Tiongkok menerapkan ekonomi pasar.  

Pada perang ini pemerintah Vietnam Utara dan Vietcong kelompok bersenjata NLF (National Liberation Front) menerapkan strategi perang gerilya atau perang rakyat semesta di belakang garis pertahanan Amerika Serikat dan Vietnam Selatan. Suplai senjata gerilyawan Selatan sendiri didapat dari Vietnam Utara dan negara-negara komunis lainnya, melalui jalur Ho Chi Minh Trail yang melewati Laos dan Kamboja. Gerilyawan komunis Vietnam juga membangun terowongan-terowongan sebagai markas pergerakan dan tempat perlindungan. Pertempuran panjang yang menimbulkan banyak korban jiwa dan menghabiskan banyak dana ini memaksa Amerika Serikat untuk meninggalkan Vietnam, sebagaimana tercantum pada Perjanjian Paris 1973. Perang ini berakhir dengan jatuhnya Saigon pada tanggal 30 April 1975 ke tangan Vietnam Utara.   

Pada akhir 1963, Amerika Serikat mengirimkan 16.300 orang tentara, serta bantuan senilai $ 500 juta. Namun demikian, tentara Amerika tidak masuk ke wilayah Vietnam Utara, mereka hanya memerangi tentara Vietnam utara yang masuk ke perbatasan.   Pertengahan tahun 1964, sebanyak 56.000 orang tentara Vietnam utara menyerang perbatasan Vietnam selatan. termasuk menyerang kapal-kapal perang Amerika Serikat di teluk tonkin. Amerika menanggapi perang ini lebih serius lagi.   Secara total, Amerika Serikat mengirimkan lebih dari 500.000 orang prajuritnya untuk membantu Vietnam Selatan. Sejumlah Negara kawan-kawan Amerika Serikat juga terlibat.   Secara moral, Amerika dan Vietnam Selatan sudah kalah pada tahun 1968. Pada januari 1968 vietnam utara menyerang saigon dengan tet offensive nya. Penyerangan ini sangat mengguncang kepercayaan diri amerika karena ternyata musuh yang diremehkan itu bisa melakukan penyerangan yang sedemikian hebatnya. Tet offensive bisa disamakan dengan serangan Umum 1 Maret.    Jadi bisa dilihat benang merah antara taktik yang dipakai Vietnam Utara dengan taktik Jenderal Soedirman.
Perang berakhir pada tahun 1975, saat tentara Vietnam Utara memasuki ibukota Vietnam Selatan, Saigon. Pukul 8.35 pagi, warga Amerika terakhir, beserta 10 orang marinir Amerika terakhir meninggalkan Kedutaan Amerika di Saigon. Pukul 11 siang, bendera Vietnam Utara dikibarkan di Istana Presiden Vietnam Selatan. Banyak para pejabat Vietnam Selatan yang tidak sempat melarikan diri di eksekusi di jalanan.    Perang Vietnam sendiri sebenarnya bisa dibilang Unwanted War, Perang yang tidak diinginkan. Kongres yang merasa perlu membendung pengaruh komunis di Asia. Pihak militer sendiri sebenarnya enggan berperang di Vietnam. Berkaca pada hasil Perang Korea tentunya.   Pihak AS dan sekutunya harus berperang di ”rumah” musuh dengan taktik yang belum pernah dicoba yaitu dengan menggunakan taktik gerilya  yang dilancarkan oleh Vietnam.
Sedangkan Taktik Amerika yang ingin mengambil hati rakyat Vietnam makin lama makin tidak bisa dilakukan sehingga menjadikan tentara AS sangat brutal.   Teknologi yang dipakai Amerika pada perang vietnam semakin maju dan mengarah ke mass destruction, taktik mereka adalah  dengan menghancurkan moral dan ekonomi komunis  yang mereka jatuhkan berbagai macam dari napalm, white phosphorus dan agent orange  yang malah menghancurkan bukan komunis saja melainkan penduduk yg tidak berdosa.   Desa-desa di bakar dan penduduk dipaksa meninggalkan rumahnya dengan tujuan mencegah mereka membantu komunis  banyak penduduk yang ditangkap dan diinterogasi, disiksa bahkan sampai meninggal hanya untuk mendapatkan informasi keberadaan komunis.   hal hal seperti ini tidak bisa mengambil hati rakyat vietnam malah membuat antipati sehingga mereka malah jadi berbalik lebih mendukung komunis.  Sedangkan di pihak komunis, mereka sangat berupaya keras mengambil hati rakyat. Dan hasilnya adalah semakin banyak rakyat yang mendukung komunis dengan memberikan suplai makanan dan berbagai macam bantuan lain seperti informasi dan lain melalui Ho Chi Min Trail.

5.         Kesimpulan. 

  • Keterlibatan AS dalam suatu peperangan di daratan Asia yang pada awalnya adalah perang kolonial menunjukkan bahwa bangsa pra modern seperti Vietnam mampu mengungguli sebuah kekuatan Barat modern seperti AS.   Setelah AS terpaksa meninggalkan Vietnam Selatan dan negara ciptaannya itu ambruk, Ho Chi Minh memproklamasikan kemerdekaan Negara Vietnam.
  • Pengalaman Perang Vietnam antara pasukan Vietnam Utara dan Vietnam Selatan yang dibantu pasukan Koalisi memberikan beberapa pelajaran yang penting bagi kita dalam rangka pembangunan angkatan perang pada masa yang akan datang.
  • Kekalahan Pasukan Koalisi pada perang ini, disebabkan karena kesalahannya dalam menafsirkan kekuatan rakyat Vietnam yang dimana didalamnya mempunyai rasa nasionalisme. Jiwa nasionalisme yang kuat merupakan senjata utama untuk melawan kekuasaan asing. Lebih diutamakannya kepentingan nasional dibanding dengan kepentingan komunis itu sendiri, merupakan kunci penting kemenangan Vietnam Utara. 

read more
Blog Advertising
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Pengikut

Link Exchange/Tukar Link.

TUKAR LINK - Copy Paste Logo Link di bawah ini